Senin, 15 April 2013

CERITA KESAKSIAN


Terkutuk Menjadi Pelacur?

Saya merupakan seorang anak keluarga broken home. Sewaktu saya kecil mama dan papa saya bercerai, saat itu saya berusia 5 tahun, dan saya belum mengerti apa yang menjadi masalahnya sehingga mereka bercerai. Pada akhirnya saya mengetahui masalahnya, bahwa papa menuduh mama selingkuh, demikian juga sebaliknya mama menuduh papa yang selingkuh. Kemudian mereka masing-masing menikah lagi.
Akhirnya saya tinggal sama oma yaitu mama dari mama saya, karena rumah oma dan rumah mama tidak terlalu jauh, ya kadang-kadang saya tinggal dengan mama kadang ke rumah oma. Di rumah Oma saya sering mendapat perlakuan yang berbeda dengan kakak saya, mungkin karena itu saya jadinya bertumbuh menjadi anak yang penuh dengan luka batin dan penolakan. Jadi apapun yang saya lakukan tidak pernah menyenangkan hati oma saya, selalu saja saya salah. Saya tidak tidak mengerti mengapa perlakuan oma seperti itu ke saya. Karena dari kecil saya gila baca buku, oma saya bilang hidup saya tidak bisa benar, saya dikutuk dengan kata-kata cemooh, mungkin pikir beliau anak ini sulit sekali disuruh kalau sudah baca buku, tapi kemarahan kepada anak kecil kan seharusnya bisa diberi pengertian, tetapi itu tidak berlaku bagi saya, saya dimaki bahkan saya juga dipanggil “Cabo” istilah untuk pelacur, pokoknya saya bingung karena saya suka di panggil seperti itu, dan sering dikutuk, kata-kata kutuk sudah menjadi makanan saya setiap hari, saya juga ingat kalau ada salah dengan kakak saya, pasti kakak saya dipukul dua kali dan saya dipukul tujuh kali pakai rotan, kalau misalnya memaki saya luar biasa, seperti “anak sundal!”, kata-kata kotor sudah kerap kali saya terima..
Saya jadi berpikir mungkin tampang saya yang jelek , cengeng, jadi oma selalu bilang kalau kakak saya anak emas dan saya lebih bagus kalau disebut anak pembantu. Karena memang tidak ada keluarga saya yang peduli sama saya, umur 7 tahun saya memutuskan untuk ikut orang yang kebetulan pernah kost di rumah oma. Saat itu aku bantu-bantu dia, mengurus segala keperluannya karena dia dalam keadaan hamil. Dia orang Palembang dan saya akhirnya saya diajak ke kota Palembang. Tetapi sampai disana juga saya tidak merasakan kedamaian, selalu ada saja yang menjadi percekcokan dalam keluarga mereka. Karena kebetulan orang yang saya ikuti ini adalah istri muda, dan kalau dia sedang stress selalu saja saya yang menjadi sasarannya, saya dimarahi, dimaki dan diperlakukan dengan kasar, akhirnya kesabaran saya habis juga. Saya sudah tidak tahan. Saya cuma 3 tahun di Palembang dan saya putuskan untuk pulang.
Saya kembali ke rumah oma, dan tetap saja tidak ada perubahan, saya tetap anak yang dikutuki dan dianggap tidak berguna. Waktu saya kerumah papa, saya diperlakukan dengan kasar juga. Saat itu saya berusia 10 tahun dan saya sedang mau main kerumah papa dan mama tiri saya. Saat itu entah karena apa, adik tiri saya yang umur 2 tahun badannya panas, ya saya kasih obat panas, saat itu bodrexin, tiba-tiba mama tiri pulang dari tetangga dan marah-marah sambil memaki “Kenapa adek panas? Kamu apakan?”, saat itu saya seperti tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sorenya papa pulang kantor, saya tidak tahu apa yang mama tiri saya ceritakan ke papa, akhirnya papa marah ke saya dan memaki saya dengan kata-kata “Dasar anak racun!” Belum lagi perlakuan papa yang beda antara ke saya dan anak-anak dari mama tiri saya. Terus terang saya adalah anak orang yang berkecukupan, karena papa saya cukup mempunyai posisi di kantor, tapi sejak perceraian itu papa sama sekali tidak peduli kepada saya dan kakak, bahkan sekolah pun kami tidak, tapi kalau dengan anak-anak yang dari mami tiri saya, dia selalu mengatakan, “Kalian harus sekolah tinggi sampai menjadi sarjana,” saat itu saya belum mengerti apa itu sarjana.
Akhirnya saya memilih untuk kabur dari rumah dan memilih untuk menjadi “anak pasar”, sampai pada akhirnya saya terperosok dalam pergaulan bebas, obat-obatan dan minuman keras. Pada saat itu saya sangat membenci papa saya, dan saya menyimpan kepahitan karena perlakuannya itu, saya juga membenci kelahiran saya, saya benci dengan diri saya sendiri, saya benci dengan kehidupan saya, saya benci dengan semuanya… Beberapa kali saya mencoba bunuh diri. Saya akhirnya jadi preman pasar di daerah Sawah Besar, saya ikut pergaulan bebas dan saya pada akhirnya jadi pelacur juga, saat itu saya berumur 15 tahun dan saya tidak punya uang. Pikir saya juga lumayan juga jadi pelacur, saya dapat uang. Saya juga suka menodong untuk mendapatkan uang, pokoknya saya benar-benar anak gelandangan di jalan. Ditambah lagi dengan pertemanan kami di antara sesama teman gelandang begitu kental, saya lebih tertarik dengan komunitas anak jalanan daripada untuk pulang ke rumah, walaupun sebenarnya keluarga saya adalah keluarga mampu.
Selama saya jadi pelacur saya dibayar dengan prosentase 40% dan 60%, jadi 40% untuk saya dan 60% buat germonya atau istilahnya “Mami” kalau kami memanggil orang yang merekrut kami. Dulunya saya suka nongkrong di Olimo, Harmoni, dan juga ada hotel Melati namanya sekarang. Jadi kehidupan saya sudah biasa dengan urusan menjajakan diri, laki-laki yang tidur dengan saya juga dari berbagai kalangan. Saat itu sih saya merasa pengen dapat uang saja dan protes dengan keadaan perceraian papa dan mama. Jadi saya hidup melacur sampai umur 19 tahun. Saya juga ikut serta dalam pergaulan bebas bersama teman-teman, dari minuman keras, pakai narkoba dan juga seks bebas. Saya harus tetap tersenyum, walaupun sebenarnya jauh di dalam hati saya, saya sedih menjalani kehidupan ini, karena saya merasa kotor dan tidak ada yang sayang sama saya, mungkin saya mencari jati diri di luar dan pada tempat yang salah…
Karena pergaulan yang salah, pada akhirnya saya hamil, tapi laki-laki itu tidak bertanggung jawab. Saya jadi bingung, tapi untung ada tetangga yang mau bertanggung jawab karena dia suka sama saya, namanya Kimcu, akhirnya kita menikah. Tetapi dalam pernikahan kami masalah keuangan adalah masalah yang utama, apalagi saya dalam keadaan hamil. Saat hamil saya tetap saja menjadi pelacur, tapi tanpa sepengetahuan Kimcu. Karena suami saya tidak kerja, dan saya merasa keuangan kita dalam berumah tangga tidak mencukupi, akhirnya saya juga sambilan dagang asinan, karena saya membutuhkan biaya dalam mempersiapkan kelahiran anak saya. Setelah melahirkan, satu minggu sesudahnya saya menceraikan Kimcu, karena saya pikir ini laki-laki tidak bertanggung jawab. Saya menghadapi semuanya itu sendiri, saat itu usia saya baru 19 tahun.
Satu tahun kemudian, tepatnya 1976, saya menikah lagi dengan seorang pemuda yang bernama Edy, yang sekarang menjadi suami saya. Saat itu Edy dikenalkan pada saya melewati teman kami. Pernikahan dengan dia biasa saja saya jalani. Saya dominan sekali dalam keluarga, apa saja yang saya bilang harus selalu dituruti, saya tidak pernah minta maaf, karena bagi saya lebih baik saya mati kalau sampai saya minta maaf, tapi untungnya Edy adalah seorang yang sering mengalah. Menikah dengan Edi saya memiliki 4 orang anak. Kehidupan jalanan membentuk karakter saya yang keras menjadi semakin keras. Keras kepala, tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri.
Pada saat anak-anak saya beranjak dewasa ternyata saya tidak dewasa juga, walaupun sudah berumur 49 tahun, kehidupan saya yang tidak baik masih terus melekat pada diri saya: merokok, berjudi, ke diskotik masih terus saja saya jalani. Saya tetap membenci papa saya, sampai pada saat dia mau meninggalpun saya tetap tidak mau menemuinya. Perhatian ke keluarga tidak sepenuhnya saya berikan, tanpa disadari mereka juga menjadi anak-anak yang kurang perhatian. Mungkin saya secara ekonomi berkecukupan tetapi saya merasa kesepian dan saya merasa ada hal dalam diri saya yang tidak saya mengerti, saya tidak bisa memberi kasih sayang kepada anak-anak saya, saya merasa kemauan saya tidak bisa dicegah, ada pertentangan dalam hati saya… Kalau saya lagi sendirian, saya ingin keramaian bersama teman-teman di diskotik, tapi kalau saya lagi di diskotik, saya ingin sendirian…
Sampai pada suatu hari saya ingat saat itu tanggal 1 januari 2003, saat itu saya merasa pusing dan saya berusaha cari pegangan, tiba-tiba saya mendengar ada suara yang menyuruh saya membuka mata. Saya berada disuatu diskotik, saya meminum ekstasi/triping bersama teman-teman, dan saat itu saya OD (Over Dosis), saat itu saya merasakan saya seperti melayang turun ke dalam sumur gelap, tangan saya berusaha menggapai namun tidak ada pegangan, saya terus melayang turun tidak tahu berapa lama, sampai akhirnya saya mendengar suara : “Bukalah matamu” dan saya mencoba membuka mata saya, tapi mata saya terasa berat sekali dan tidak bisa dibuka. Suara itu terus saya dengar berulang-ulang, dan sampai akhirnya saya dapat membuka mata saya, dan pada saat itu saya melihat ada bayangan orang, saya lalu berusaha menepuk dan menjerit ditelinganya.”Tolong, gua OD (Over Dosis)”, setelah itu saya merasa setengah sadar dan ditolong oleh orang. Saya mendengar lagu house music membuat kepala dan telinga saya sakit sekali. Akhirnya hari itu jiwa saya tertolong, tetapi saya masih belum jera juga, saya masih pergi ke diskotik. Bahkan saya dulunya suka membeli teman untuk mengisi kekosongan saya. Saya juga tidak mengerti, saya ingin yang benar, tapi justru yang tidak benar yang saya lakukan. Teman saya beli dengan uang, kalau kita banyak uang, pasti kan banyak yang mau berteman dengan kita.
Pada tanggal 14 Februari 2003, saya dalam pengaruh ekstasi dan “on tinggi” tiba-tiba saya mendengar suara “Lihatlah siapa yang kau sembah?” Waktu saya membuka mata saya, saya melihat pengunjung dalam diskotik itu bukan sebagai manusia, tetapi berwujud menyeramkan seperti setan. Kepalanya bertanduk dan tidak memiliki tempurung kepala, wajahnya coreng-moreng. Saat itu saya tidak merasa takut, hanya pengaruh ekstasi itu langsung drop, dan saya hanya duduk di dekat panggung saja, hanya melihat dan menatap mereka, sejak saat itu saya jadi sering mendengar suara-suara ketika saya sedang “on tinggi” dan pengaruh ekstasi itu langsung drop. Sampai pada tanggal 4 Oktober 2005, ketika saya berada dalam diskotik, saya mendengar suara lagi dan mengatakan :”Pulanglah atau engkau akan terhilang.” Pada saat itu saya merasa takut dan langsung pulang, itu adalah terakhir kalinya saya pergi ke diskotik.
Saya bertobat, saya pikul salib dan saya salibkan kedagingan saya. Saya tahu semua ini karena lawatan Allah secara langsung terhadap saya. Satu persatu saya melepaskan dosa saya, pertama diskotik dan obat-obatan, lalu judi, dan yang terakhir perselingkuhan. Saya mulai aktif ke gereja ikut dalam kelompok Family Altar (FA), bertumbuh bersama dengan teman-teman seiman. Tanggal 19 Mei 2006, digereja saya diadakan retreat pemulihan, dan saya ikut dalam retreat itu. Saat itu session pertama mengenai Hati Bapa. Pada session pertama ketika saya menutup mata, Tuhan perlihatkan perlihatkan wajah papi saya, karena terus terang saja saya pahit dan benci sekali sama papi saya, dan Tuhan juga perlihatkan hati saya yang beku seperti es, berwarna kebiruan. Saat itu saya bilang, saya tidak bisa mengampuni papi saya Tuhan, saya tidak mampu… Tapi bersamaan dengan perasaan itu, hambaNya berkata kalau kita memang tidak mampu, tetapi kita harus minta kekuatan Tuhan. Pada akhirnya saya menyerah dan saya terus berdoa dengan mengatakan, Engkau saja Tuhan yang bekerja didalamku. Tuhan, bantu aku untuk dapat mengampuni… Saat itu saya merasakan sukacita dan damai. Saat itu saya berserah total.
Waktu saya berserah, saya diperlihatkan lagi tangan Tuhan sedang mengusap-ngusapi hati saya yang beku dan perlahan-lahan hati saya mencair dan kembali berwarna merah, lalu Tuhan meremas-remas hati saya sampai hancur, lalu Tuhan mencabut hati saya, saya melihat seakan-akan ada akar yang dicabut dari hati saya, sakitnya benar-benar saya rasakan. Tapi sesudahnya saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Keesokannya pulang dari retreat saya mengadakan pemulihan dengan anak-anak, dan memang ternyata benar hari-hari yang kami alami setelah pemulihan begitu dasyat dan luar biasa, hubungan saya dengan anak-anak menjadi semakin baik. Dan saya juga saya juga jadi menyala-nyala di dalam Tuhan. Saya juga terkadang diminta bersaksi di gereja dan di dalam lingkungan komunitas doa. Semua karena kebaikan Bapa dan kasih karunia Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Terima Kasih Tuhan untuk segala kebaikanMu…
“Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.” (Yer 24:7)
Sumber Kesaksian:
Willan (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar