Rabu, 16 Oktober 2013

Muslim Suriah Percaya Yesus setelah Sembuh dari Sakit

Muslim Suriah Percaya Yesus setelah Sembuh dari Sakit

MONDAY, 07 OCTOBER 2013

Total View : 1516 times

Seorang mantan penganut Muslim asal Suriah, Karim Shamsi-Basha, mengungkapkan kisahnya menjadi Kristen. Melalui bukunya yang bertitel Paul and Me (Paulus dan Saya), Shamsi-Basha menceritakan bagaimana penyakit otak yang dideritanya telah membuatnya bertemu dengan Yesus.

Paul and Me berisi kisah Shamsi-Basha saat ia koma hampir sebulan lamanya akibat penyakit aneurisma otak. Setelah dia mengalami pemulihan total, ahli bedah otak memberitahu dia bahwa sangat sedikit orang yang bisa pulih seperti yang dia alami. Sang ahli bedah berkata kepada Shamsi-Basha, "Kamu harus mencari tahu mengapa kamu bertahan hidup."

Sejak peristiwa itu itu, Shamsi-Basha menghabiskan hampir 2 dasawarsa hidupnya untuk mencari tahu tentang Yesus dan mempelajari apa tujuan hidupnya. Kini Shamsi-Basha memiliki visi hidup "membagikan kasih Tuhan kepada orang-orang dan membuat mereka tahu bahwa Dia mencintai semua anak-anak-Nya."

Buku Paul and Me dirilis bulan Agustus 2013 lalu. Selain berisi perjalanan pribadi Shamsi-Basha sampai dia menemukan Tuhan, buku ini juga memuat beberapa sudut pandang teologi mengenai Paulus, mantan penganiaya orang Kristen yang akhirnya bertobat dalam perjalanan menuju Damaskus, kota kuno yang terletak di Suriah.

Shamsi-Basha lahir dan tumbuh besar di sebuah keluarga Muslim di Suriah. Dia dan keluarganya cukup toleran dengan berbagai agama dan kepercayaan. Dua orang sahabat Shamsi-Basha adalah penganut Kristen dan mereka sering melakukan diskusi seputar agama mereka masing-masing.
Tuhan memiliki cara-cara yang tak terhitung banyaknya untuk membawa manusia berdosa datang kepada-Nya. Dia bisa memakai penyakit, keberhasilan, musibah, atau orang-orang di sekitar kita supaya kita bisa mengenal Dia, Sang Juruselamat Agung. Problem selanjutnya adalah pilihan kita sendiri: apakah kita bersedia membuka pintu hati dan membiarkan Dia masuk ke dalamnya? Atau, menolak Dia dan berupaya mencari jalan-jalan lain menuju keselamatan?

Umat Kristen Bangladesh Terancam Tidak Dapat Beribadah

Umat Kristen Bangladesh Terancam Tidak Dapat Beribadah

SUNDAY, 06 OCTOBER 2013

Total View : 955 times

Sebuah kantor pemerintahan di Bangladesh pusat dilaporkan telah menghentikan pembangunan sebuah gereja, memaksa umat Kristen yang ada disana melakukan ibadah di Mesjid dan mengancam mengusir mereka dari desanya, menurut World Watch Monitor (3/10).

Pembangunan gereja Tangail Ecangelical Holiness di desa Bilbathuagani telah dimulai sejak 8 September lalu oleh sekelompok umat Kristen yang terdiri dari 25 orang. Kelompok ini dikabarkan sempat melakukan pertemuan ibadah secara sembunyi selama 3 tahun untuk menghindari pemerintah.

Pada 13 September lalu, ketua dewan setempat, Rafiqul Islam Faruk mengumpulkan sekitar 200 demonstran untuk mendemo pembangunan gereja tersebut. Jumlah ini ternyata bertambah dan lebih dari 1,000 umat mayoritas menuntut pemerintah lokal agar membatalkan pembangunan gereja. "Ketua dewan dan para imam Mesjid menginterogasi saya karena menganut agama Kristen. Mereka menanyakan mengapa saya menjadi seorang Kristen. Adalah dosa terbesar meninggalkan agama mayoritas dan menjadi Kristen. Jika saya tidak menjadi agama saya yang dulu, mereka akan memukul saya, membakar rumah saya, dan menjauhkan saya dari masyarakat," kata Mokrom Ali (32), salah satu jemaat gereja kepada World Watch Monitor.  

Mokrom mengaku dirinya sempat berpura-pura untuk pindah ke agama sebelumnya namun imannya kepada Kristus, diakuinya tetap ada dan terus ada. "Iman di dalam Kristus adalah mata air hidup saya. Sekarang saya bukan seorang beragama mayoritas. Saya seorang Kristen," katanya.
Penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di Bangladesh memang berat dan tidak mudah. Namun percayalah sebab segala pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan tidak akan sia-sia. Oleh karena itu, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya (1 Petrus 4:13).

Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari

Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari

WEDNESDAY, 18 SEPTEMBER 2013

Total View : 1495 times

Sejak diambil alih, 20.000 umat Kristen Koptik di Dalga mengalami penganiayaan. Sesaat setelah Morsi turun tahta, para penyerang merusak institusi Kristen, mencuri peralatan gereja dan membakar gedung setelah mereka selesai mencuri. "Mereka tidak ingin melihat umat Kristen punya kekuatan apapun, tidak peduli betapa sederhananya itu," kata Yoannis, pendeta Ortodoks Koptik. Selain gereja, banyak rumah dan tempat bisnis umat Kristen yang diserang.

Sebanyak 40 keluarga sudah pergi dari kota tersebut saat penyerangan terjadi, namun masih banyak yang tersisa. Mereka dipaksa masuk Islam, para wanita seringkali menjadi target serangan verbal, dan mereka juga dipaksa untuk membayar pajak "penundukan" jika tetap berpegang teguh pada iman mereka.

Pajak ini, yang dikenal dengan pajak jizya, punya akar sejarah dalam politik Islam. Jizya dulunya adalah penaklukan non Muslim yang harus membayar tuan tanah Muslim dengan kerelaan ditundukkan agar keamanan mereka tetap terjaga, menurut Raymond Ibrahim, yang punya garis keturunan Koptik. Jika mereka beralih ke Islam, maka pajak ini tidak perlu lagi dibayar.

Para penyerang Dalga, kota yang berpenduduk 120.000 itu memberikan pajak yang berbeda-beda untuk setiap umat Kristen. "Pembayaran pajak dari satu tempat ke tempat lainnya berbeda-beda, beberapa membayar 200 pound Mesir setiap harinya, beberapa lagi 500," kata Yunis Shawqi, seorang pendeta yang diterjemahkan oleh penerjemah. Sebagai informasi tambahan, 200 pound Mesir sama dengan Rp 300 ribu. Jadi sekitar Rp 9 juta per bulan. Mereka yang menolak membayar pajak akan diserang, menurut beberapa laporan.

Penganiayaan umat Kristen di Mesir makin bertambah. Mereka secara terang-terangan diserang karena iman mereka, padahal dunia menjunjung tinggi hak beribadah. Bahkan ketika seseorang tak percaya Tuhan pun diberikan kebebasan. Namun, mereka malah dianiaya dan tidak ada yang membela mereka. Biarlah mereka dibela oleh Tuhan dan Tuhan perlihatkan kuasa-Nya. Biarlah mereka juga kuat imannya di dalam Tuhan Yesus. Pray for Mesir.

Gereja Amerika Targetkan 1 Juta Orang Kembali Beribadah

Gereja Amerika Targetkan 1 Juta Orang Kembali Beribadah

SUNDAY, 15 SEPTEMBER 2013

Total View : 1062 times

Lebih dari satu juta orang Amerika diharapkan menghadiri gereja pada akhir pekan ini melalui gerakan National Back to Church Sunday. Lebih dari 20.000 gereja ikut serta dalam gerakan yang di desain untuk memberdayakan anggota gereja untuk mengundang teman, keluarga, tetangga dan rekan kerja untuk menghadiri ibadah pujian dan penyembahan yang istimewa. 
Jumlah gereja yang terlibat pada tahun 2013 ini meningkat drastis dari tahun 2012 lalu yang hanya diikuti 13.100 gereja. 
"Saya pikir mungkin alasan terbesar pertumbuhan ini karena hal ini berhasil," demikian pernyataan Scott Evans, CEO Outreach Inc yang dikutip Christian Post, Sabtu (14/9) lalu.
Outreach Inc adalah lembaga pendiri gerakan National Back to Church Sunday (NBCS). Gereja yang berpartisipasi pada tahun lalu melaporkan bahwa kehadiran di gereja mereka meningkat sebesar 38 persen pada saat NBCS. 
Acara tahunan ini pertama kali dimulai pada tahun 2009 sebagai respon atas hasil survei LifeWay Research yang menyatakan bahwa 82 persen orang Kristen Amerika tidak kegereja karena tidak ada orang yang mengundang mereka. Survei yang sama juga mengungkapkan bahwa hanya dua persen anggota gereja yang aktif mengundang orang yang dikenalnya ke gereja. 
Salah satu dampak positif dari gerakan ini menurut Scott Evans adalah banyak gereja mulai bekerja sama untuk menjangkau komunitasnya  dan menembus batas tembok denominasi.
Banyak orang yang menantikan kabar baik, untuk itu sudah saatnya umat Tuhan pergi untuk memberitakan kepada mereka dan mengundang mereka untuk datang ke rumah Tuhan menikmati perjamuan kasih dan juga jamahan-Nya.

Koin Emas Berlambang Yahudi Ditemukan di Masjid Aqsa

Koin Emas Berlambang Yahudi Ditemukan di Masjid Aqsa

SATURDAY, 14 SEPTEMBER 2013

Total View : 1408 times

Di bagian selatan halaman Masjidil Aqsa, Yerusalem, Senin lalu (9/9) ditemukan medali emas dan aksesoris emas lainnya peninggalan era Bizantium. Sejumlah emas yang ditemukan ini memiliki gambar atau simbol bangsa Yahudi. Selain itu, koin emas pun ditemukan. Medali dan koin emas yang ditemukan ini dipercaya sebagai peninggalan kekaisaran Romawi Timur.

Arkeolog Israel menggali dan menemukan harta tersebut. Salah satu arkeolog dari Universitas Ibrani Yerusalem, Eilat Mazar menunjukkannya kepada wartawan. Ada 36 koin emas, sebuah medali emas bergambar sebuah lilin ritual Yahudi, dan satu set perhiasan emas dan perak. Harta tersebut ditemukan sekitar 50 meter dari dinding selatan di komplek Masjid Aqsa, yang dikenal sebagai Temple Mount dan dihormati sebagai situs tempat ibadah Yahudi bagi raja Salomo dan Herod. Mazar memperkirakan harta itu tertinggal ketika Persia menguasai Yerusalem pada abad ke-614 Masehi.

"Sepertinya penjelasannya yang paling mungkin adalah bahwa…simpanan itu ditujukan sebagai kontribusi untuk pembangunan sebuah sinagog baru, di sebuah tempat yang dekat dengan Temple Mount," kata Mazar. "Satu-satunya hal yang jelas adalah misi mereka – apapun itu – tidak berhasil. Harta itu terabaikan, dan pemiliknya tidak pernah bisa kembali untuk mengambilnya." katanya lagi.
Bisa jadi ini membuktikan bahwa di sana pernah didirikan bangunan bersejarah yang dipercaya sebagai Bait Allah, yang didirikan oleh Salomo untuk Allah. Sebab, di Alkitab juga diceritakan bahwa para orang Yahudi setelah dibuang di Babel kembali mendirikan Yerusalem. Mungkin mereka mencoba mendirikan kembali namun gagal seperti yang dikatakan Mazar.

Jika AS Serang Suriah, Umat Kristen Terancam

Jika AS Serang Suriah, Umat Kristen Terancam

Jika AS Serang Suriah, Umat Kristen Terancam

Related Articles

Mantan Kepala Sekolah Gugat Perhimpunan Pendidikan Kristen Surakarta

Gereja Jangkau Remaja Kristen Lewat Komunitas

Umat Lintas Agama Bentuk Rantai Manusia di Depan Gereja Pakistan

WEDNESDAY, 11 SEPTEMBER 2013

Total View : 1656 times

Direktur pengembangan masyarakat dan bantuan di Lebanese Society for Educational and Social Development, Rupen Das mengatakan bahwa jika Amerika Serikat menyerang Suriah maka umat Kristen disana akan terancam dan banyak warga sipil lainnya yang kemungkinan akan menjadi korban.

Das mengingatkan bahwa serangan AS ke Suriah justru akan membuat kaum pemberontak yang banyak dinataranya adalah Anti-Kristen akan menargetkan umat Kristen menjadi buruannya. "jika pasukan pemerintah melemah, ada indikasi bahwa kelompok radikal akan memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan serangan kepada komunitas Kristen dan Alawi," kata Das.

Das yang menjadi salah satu relawan bagi pengungsi di Suriah meminta agar dunia segera mengirimkan bantuan kemanusiannya bagi para pengungsi yang kini begitu kekurangan. Apalagi menghadapi musim dingin yang akan segera tiba, ditambah tidak terlihatnya akhir dari perang berdarah ini.

Das bukanlah orang pertama yang memperingatkan hal ini. Geoff Tunnicliffe dari World Evangelical Alliance juga telah mengirim pesan ke Gedung Putih bahwa intervensi militer AS ke Suriah akan memiliki efek yang membahayakan bagi kehidupan umat Kristen di wilayah itu.

Kesombongan dan keserakahan dalam mengeruk kepentingan kelompok dan pribadi dengan mengorbankan orang lain adalah tindak kejahatan kemanusiaan yang perlu ditindak. Tidak hanya umat Kristen yang akan jadi korban jika serangan ini dilaksanakan, namun warga sipil lainnya, anak-anak dan para perempuan akan menjadi korban.

Dua Gereja Katolik Bangor Terancam Ditutup

Dua Gereja Katolik Bangor Terancam Ditutup

WEDNESDAY, 11 SEPTEMBER 2013

Total View : 1391 times

Dua gereja Katolik di Bangor, Maine terancam ditutup karena mengalami penurunan jemaat yang signifikan. Kedua gereja yang rencananya akan ditutup ini adalah St David dan St Mary.
Menurut data yang diperoleh oleh gereja,Seperti yang dilansir BBC,Selasa (10/9), jemaat yang hadir beribadah setiap minggunya di lima gereja di wilayah Bangor hanya berkisar 170 orang saja. Lantas dengan kondisi ini, mendorong gereja untuk melakukan rencanareformasi dan modernisasi demi masa depan gereja kedepan. 
Menurut Uskup Bangor, pendeta Andrew John, rencana penutupan ini tentunya akan menimbulkan kesedihan bagi para jemaat gereja. Namun, kenyataan bahwa penurunan jemaat sangat berdampak pada minimnya keuangan gereja yang tidak lagi mampu memenuhi biaya operasional.
Rencananya, kedua jemaat St Mary dan St David akan dipindahkan ke Katedral Bangor yang hanya berjarak sekitar 2.5 kilometer.
"Kami menerima dan mengakui bahwa rekomendasi ini akan mengakibatkan kesedihan dan duka bagi seluruh jemaat gereja, namun mereka tetap diundang untuk beribadah ke Katedral setiap minggunya," ungkap uskup.
Untuk diketahui, rencana penutupan gereja ini merupakan kali ketiga sejak tahun 1960. Namun, hingga saat ini isu tersebut kembali muncul. Kondisi penurunan jemaat di sejumlah gereja baik di Inggris maupun Amerika memang sudah sangat terasa dalam beberapa tahun ini.
Belum ditemukan penyebab konkret penurunan signifikan jemaat tersebut, namun fenomena ini menandakan perlunya sebuah reformasi baru bagi gereja untuk kembali membangkitkan iman dan kepercayaan umat Kristen di negara tersebut.